
Rabu, 28 Januari 2026, 14:33
Penulis : Minvest
Ketika berita dipenuhi kata resesi, perang, krisis energi, atau pasar anjlok, reaksi mayoritas orang cuma satu: panik. Investor ritel banyak yang jual rugi, tarik dana, lalu menunggu “situasi aman”.
Tapi anehnya… di momen dunia terasa goyah, justru ada investor yang portofolionya malah naik. Kok bisa?
Jawabannya bukan sulap. Ini soal cara main, bukan cuma asetnya.
Saat kondisi global tidak stabil, pasar keuangan jadi sangat fluktuatif. Harga aset bisa naik-turun tajam dalam waktu singkat.
Buat yang tidak siap → ini kelihatan menakutkan.
Buat yang paham → ini kelihatan seperti diskon besar-besaran.
Karena dalam volatilitas tinggi, peluang keuntungan juga ikut membesar, terutama bagi investor yang:
Tidak pakai uang kebutuhan hidup
Punya strategi, bukan ikut emosi pasar
Paham bahwa krisis itu siklus, bukan akhir dunia
Ada satu prinsip pasar yang jarang dibahas:
Retail panik, institusi belanja.
Saat investor kecil ramai-ramai jual karena takut, harga banyak aset turun ke level murah. Di titik inilah:
Fund manager
Investor besar
Hedge fund
mulai masuk dan akumulasi. Mereka tahu, setelah badai lewat, harga biasanya pulih, bahkan bisa lebih tinggi dari sebelumnya.
Makanya sering terjadi:
📉 Pasar jatuh → 📈 beberapa bulan/tahun kemudian cetak rekor baru.
Di masa ketidakpastian, uang dunia mencari tempat yang dianggap lebih aman. Beberapa aset yang sering diuntungkan:
Emas → lindung nilai klasik saat krisis
Dolar AS → dianggap mata uang paling stabil
Obligasi pemerintah negara kuat
Saham sektor defensif (kesehatan, kebutuhan pokok, utilitas)
Jadi meskipun saham teknologi atau kripto turun, portofolio yang terdiversifikasi masih bisa naik karena bagian “aman”-nya menguat.
Portofolio bisa naik saat dunia goyah biasanya karena strategi seperti:
Beli rutin saat harga turun → rata-rata harga jadi lebih murah.
Saat saham jatuh, porsi emas/obligasi naik → dijual sebagian untuk beli saham murah.
Indikator ketakutan pasar (fear index) sering jadi sinyal bahwa harga sudah terlalu ditekan.
Intinya: mereka tidak mengejar harga naik, tapi beli saat orang takut.
Sejarah pasar membuktikan satu hal:
Ada perang
Ada pandemi
Ada resesi
Ada krisis finansial
Tapi dalam jangka panjang? Pasar global tetap naik.
Karena ekonomi dunia selalu bergerak maju:
teknologi berkembang, populasi bertambah, konsumsi meningkat.
Orang yang portofolionya naik saat dunia goyah adalah mereka yang paham bahwa:
Krisis = fase diskon dalam perjalanan jangka panjang.
Portofolio tidak otomatis naik saat krisis kalau:
❌ Semua dana di satu aset berisiko
❌ Investasi pakai uang darurat
❌ Ikut FOMO saat harga tinggi
❌ Jual saat panik
Yang naik itu bukan sekadar “punya aset”, tapi punya sistem dan disiplin.
Saat dunia terasa goyah, ada dua tipe orang di pasar:
Yang melihat ancaman
Yang melihat kesempatan
Portofolio bisa naik di masa krisis bukan karena keberuntungan, tapi karena:
✔ Diversifikasi
✔ Mental kuat
✔ Strategi jangka panjang
✔ Beli saat orang lain takut
Jadi pertanyaannya bukan lagi:
“Pasar lagi hancur, gimana dong?”
Tapi:
“Apakah aku sudah siap memanfaatkan momen ini?”
muhammad fachmy
28/1/2026