
Jumat, 28 November 2025, 18:34
Penulis : Minvest
Pinews — Pembangunan proyek lift kaca di tebing Pantai Kelingking, Nusa Penida, resmi diberhentikan sementara setelah Gubernur Bali Wayan Koster meminta seluruh aktivitas konstruksi dihentikan total. Pengumuman itu disampaikan pada Minggu di Denpasar, menyusul temuan adanya lima pelanggaran berat dalam pengerjaan proyek tersebut.
Koster menjelaskan bahwa penghentian ini tidak hanya didasarkan pada aspek perizinan, tetapi juga pertimbangan kelestarian alam, budaya lokal, serta rekomendasi dari Panitia Khusus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan.
Meski detailnya belum dibuka ke publik secara lengkap, pemerintah menekankan adanya pelanggaran yang berkaitan dengan:
Ketidaksesuaian tata ruang
Gangguan terhadap kawasan rawan bencana
Potensi kerusakan bentang alam
Pelanggaran administratif perizinan
Ancaman terhadap nilai-nilai budaya setempat
Menurut Koster, proyek lift kaca yang dibangun tepat di tebing ikonik Kelingking dikhawatirkan mengubah karakter alami kawasan serta memperbesar risiko keselamatan wisatawan.
Pantai Kelingking selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi alam tercantik di dunia, dengan tebing curam berbentuk “T-Rex” yang menjadi daya tarik utama. Pemerintah menilai pembangunan yang mengganggu struktur tebing dapat menimbulkan kerusakan jangka panjang, terutama pada:
Ekosistem tebing dan vegetasi alami
Kondisi geologi rawan longsor
Kawasan sakral dan adat setempat
“Bali bukan hanya tempat wisata, tetapi ruang budaya yang harus dijaga,” tegas Koster dalam konferensi persnya.
Pengembang proyek diwajibkan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk memperbaiki dokumen perizinan, studi kelayakan, dan analisis dampak lingkungan. Pemerintah membuka peluang pembahasan ulang, tetapi menekankan bahwa keselamatan dan kelestarian harus menjadi prioritas utama.
Banyak aktivis lingkungan di Bali menyambut baik keputusan penghentian tersebut. Mereka menilai pengembangan pariwisata harus tetap memperhatikan daya dukung lingkungan, terutama di kawasan sensitif seperti Nusa Penida.
Sementara itu, pelaku pariwisata berharap keputusan ini tidak menurunkan minat wisatawan, tetapi justru menjadi momentum untuk menata destinasi secara lebih bijak.