
Rabu, 01 Oktober 2025, 11:17
Penulis : Minvest
Di tengah hiruk pikuk industri Health & Beauty (Kesehatan dan Kecantikan) Indonesia yang didominasi oleh merek-merek raksasa dan brand impor, seorang artpreneur bernama Dea Alvita Seda memilih jalur yang berbeda. Melalui pendirian Atness Pharmacy Concept Store, ia tidak hanya mendirikan sebuah toko, melainkan sebuah ekosistem yang didesain secara strategis untuk mengangkat derajat produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
Dalam perbincangan mendalam di PiCast Ngopi Manis, Alvita membagikan filosofi bisnisnya yang teruji oleh waktu dan tantangan, membuktikan bahwa identitas dan empati terhadap masalah pasar adalah kunci keberlanjutan.
Alvita datang ke dunia bisnis dengan bekal yang solid: latar belakang pendidikan Pharmacy dari ITB yang memberinya pemahaman teknis tentang produk, dan gelar Magister Manajemen Bisnis dari Prasetya Mulya yang memberinya kerangka strategis. Namun, ia menekankan bahwa teori hanyalah pondasi.
"Bangku kuliah itu penting, tapi itu cuman kayak pondasi. Ujung-ujungnya itu memang trial error, banyak sharing, sama yang sudah duluan."
Perjalanan bisnisnya dimulai dari sebuah introspeksi diri yang radikal. Setelah beberapa kali mengalami kegagalan di bisnis sebelumnya terutama karena terlalu bergantung pada partner, ia menyadari bahwa ia harus fokus memperbaiki dirinya sendiri terlebih dahulu untuk membawa perbaikan positif ke dalam bisnis. Prinsip ini menjadi fondasi utama dalam mengelola tim kecil dan mengendalikan operasional Atness.
Model bisnis Atness lahir dari analisis mendalam terhadap dua masalah krusial yang dihadapi pasar Health & Beauty di Indonesia:
Banyak UMKM lokal memiliki produk berkualitas tinggi, namun terhambat masalah biaya dan akses. Mereka kesulitan menyewa lokasi ritel strategis untuk memajang hanya satu atau dua varian produk. Atness hadir dengan konsep Concept Store dan sistem titip jual (consignment). Ini memberikan UMKM "panggung" yang terjangkau agar produk mereka dapat diperkenalkan dan bersaing langsung dengan merek-merek besar. Alvita menegaskan komitmennya: ia ingin tumbuh bersama UMKM lokal, bukan membantu merek luar yang sudah mapan.
Konsumen yang ingin mendukung produk lokal seringkali harus mencarinya satu per satu. Atness menjawab ini dengan mengkurasi dan menyatukan semua produk lokal berkualitas tinggi di bawah satu atap, mempermudah konsumen untuk menemukan dan membeli.
Filosofi dasarnya lugas: "Membuat bisnis tanpa problem itu sulit." Alvita percaya bahwa bisnis yang berkelanjutan harus memiliki meaning dan vision yang kuat, bukan sekadar berorientasi pada keuntungan jangka pendek.
Sebagai Concept Store, integritas Atness bergantung pada kualitas brand yang dipajang. Oleh karena itu, Atness menerapkan proses kurasi yang sangat ketat:
Setelah fase awal penjualan, Atness kini berevolusi memasuki fase Program Activation. Alvita memandang bahwa loyalitas konsumen dibangun melalui pengalaman, bukan hanya transaksi.
Rencana bisnis Atness tahun ini berfokus pada:
Puncak ambisi Alvita adalah mengadakan Mini Festival besar di akhir tahun untuk brand lokal. Langkah ini menunjukkan pergeseran strategis dari model ritel pasif menjadi model community-driven yang memanfaatkan kolaborasi untuk skala yang lebih besar.
Pada akhirnya, bagi Alvita, kesuksesan sejati sebagai seorang artpreneur bukanlah ketika keuntungan mencapai target, melainkan ketika bisnisnya bisa berjalan dengan lancar tanpa harus ada dirinya di dalamnya. Ini adalah cerminan dari sistem yang matang, tim yang handal, dan legacy yang berkelanjutan.